Pelaku Penganiayaan di Majene Masih Berkeliaran dan Tebar Teror ke Korban

  • Bagikan

MAJENE – Korban penganiayaan Syamsul (37) mengaku kecewa lantaran laporan polisi yang dibuatnya tidak ditanggapi serius Polres Majene.

Syamsul merupakan warga Lingkungan Somba Selatan, Kelurahan Mosso, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene.

Sesuai dengan laporan polisi nomor : LP/B/40/IV/2022/SPKT/POLRES MAJENE/POLDA SULAWESI BARAT, tanggal 26 April 2022, Syamsul melaporkan Irsan Cs yang diduga melakukan penganiayaan bersama sejumlah orang terkait peristiwa pidana sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 351 KUH Pidana.

Mirisnya penganiayaan itu berlangsung di hadapan Sekretaris Camat Sendana, Kepala Lingkungan Somba Selatan dan warga lainnya.

“Saat malam kejadian, saya sedang berbincang dengan Sekcam Sendana, tiba-tiba pelaku datang memukul saya. Tidak sampai di situ, pelaku lain pun mengeroyok dengan kayu,” sebut Syamsul, Rabu (4/5/2022).

Baca Juga  Kurangi Pencemaran, Karang Taruna Salamaq Sosialisasi Pengolahan Sampah Plastik

Korban menyesalkan lambatnya penanganan perkara yang menimpa dirinya. Apalagi, para pelaku terkesan tidak tersentuh hukum.

Pasca kejadian, pelaku bebas berkeliaran. Bahkan kerap menebar teror dengan cara berteriak di depan rumah korban.

Syamsul meminta agar Polres Majene bersikap profesional dan menangkap para pelaku penganiayaan.

“Kami minta para pelaku segera ditangkap. Kami hawatir akan terjadi penganiayaan kembali,” pintanya.

Untuk menghindari kejadian terulang, Syamsul bersama keluarganya terpaksa meninggalkan rumahnya dan tinggal di rumah kerabatnya di wilayah Kota Majene.

Baca Juga  Miris! Perumda Aneka Usaha Majene Tak Miliki Laporan Keuangan

Menurut Syamsul, kejadian berawal ketika sekelompok pemuda menyetel musik dengan keras di depan rumahnya.

Padahal isteri Syamsul sedang hamil empat bulan dan mengeluh tidak bisa tidur akibat suara bising musik pemuda di depan rumah.

Ia kemudian mendatangi para pemuda dan meminta agar bergesar dari depan rumahnya.

Para pemuda justeru dihasut pelaku untuk kembali ke depan rumah Syamsul dan menyetel lebih keras musiknya.

Kondisi serupa berlangsung selama lima hari berturut-turut, sehingga membuat isteri Syamsul mengalami pendarahan dan akhirnya keguguran.

Baca Juga  Sekda Minta BKPRMI Berkontribusi Wujudan Visi Misi UMR Pemkab Majene

Syamsul yang tidak tahan lagi dengan perbuatan para pemuda kemudian sempat mengejar mereka.

Namun Petugas Polsek Sendana berhasil mendamaikan Syamsul dengan kelompok pemuda melibatkan Sekcam Sendana, Kepala Lingkungan Somba Selatan, beserta sejumlah tokoh masyarakat.

Pulang dari Polsek Sendana, Syamsul sempat mengobrol dengan Sekcam Sendana di depan rumahnya. Tidak berselang lama, pelaku datang dan langsung memukul wajah Syamsul berkali-kali.

Tangan Syamsul berlumuran darah usai dikeroyok

Mirisnya pemukulan itu disaksikan oleh Sekcam Sendana dan Kepala Lingkungan.

Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi belum berhasil memperoleh keterangan dari pihak kepolisian.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *