Upaya Pelestarian Lingkungan Mamasa Melalui Program Forest Programme

  • Bagikan

MAMASA – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berharap “Forest Programme IV Watershed Mamasa-Sulawes” terus berlanjut dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di daerah itu, khususnya di Kabupaten Mamasa.

“Harapan kami di Sulbar, program ini bisa berkelanjutan,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar Muhammad Idris di Mamuju, Sabtu (18/6/2022).

Ia menyampaikan bahwa daerah itu memikul beban jauh lebih berat pasca pemisahan dari Provinsi Sulsel.

“Di Sulbar, sebanyak 63 persen adalah kawasan hutan dan hutan ini tidak bisa diapa-apakan, karena bisa berisiko terputus tata kelola lingkungan hidup di dalamnya,” terang Muhammad Idris.

Ia menjelaskan bahwa “Forest Programme IV” adalah bentuk perhatian manusia terhadap pelestarian lingkungan.

Namun, masih banyak permasalahan-permasalahan klasik yang ada di Sulbar yang menjadi kendala, seperti fiskal yang rendah, yakni hanya Rp2,1 triliun, dibanding dengan provinsi lain dan ketersediaan SDM yang tidak cukup.

Baca Juga  Lapas Mamasa Diminta Berikan Pelayanan Terbaik

Apalagi, lanjutnya, Sulbar ditetapkan sebagai daerah yang secara nasional sudah menjadi daerah yang sangat rawan bencana di Indonesia.

“Indeks kebencanaan tertinggi di Indonesia itu menempatkan Sulbar di urutan pertama,” tutur Muhammad Idris.

Hal tersebut, menurut dia, sangat berhubungan dengan program lingkungan ini, karena bencana di Sulbar tidak hanya gempa bumi tetapi yang paling banyak adalah banjir sehingga hal itu harus menjadi catatan serius.

“Tidak hanya di Mamuju saja, tapi hampir di seluruh daerah terutama Pasangkayu dan daerah-daerah ini sangat rentan, termasuk juga di Mamasa,” ujarnya.

Baca Juga  38,89 Gram Narkotika dari 11 Terpidana Dimusnahkan Kejari Mamasa

“Saya kira di Mamasa adalah pusat tempat kita untuk mengandalkan penyelamatan lingkungan dan program ini sudah sangat benar. Pas betul kalau kita kloning khusus untuk Mamasa dan Sub DAS Mamasa untuk kita perhatikan,” jelas Muhammad Idris.

Sementara, Direktur Rehabilitasi Hutan, Nicholas Nugroho Surjobasuindro mengatakan, kedatangannya di periode ini berkaitan dengan misi mereka untuk memantau dan memonitor kemajuan pelaksanaan kegiatan yang disupport oleh KfW kegiatan lokusnya ada di dua provinsi, yaitu Sulbar dan Sulsel.

“Lokus terbesar memang ada di Sulbar, yakni kurang lebih ada 75 persen dari luas area yang akan dilaksanakan untuk program ini dan itu berada di Sulbar,” urainya.

Baca Juga  Warga Demo Desak Pj Bupati Mamasa Dicopot

“Inilah yang menjadi fokus kita dan KfW untuk mendukung upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan memperpanjang umur operasional dari PLTA Bakaru yang sangat esensial bagi penyedia listrik di wilayah Sulbar,” terang Nikolas.

Forest Programme IV terselenggara atas kerja sama bilateral antara Pemerintah Republik Federal Jerman dan Pemerintah Republik Indonesia, yang merupakan program berbasis kehutanan dalam rangka dukungan pembiayaan Jerman melalui KfW (Kreditanstalt fur Wiederaufbau) Bank pembangunan milik Jerman.

Program itu melengkapi program Pembangkit Listrik Tenaga Air Bakaru II, yang didukung KfW dengan pelaksana PT PLN, bertujuan mempromosikan sumber daya energi yang terbarukan dan berkelanjutan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *