Opini  

Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan

Oleh: Munawwarah Rahman, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

Baru saja bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional, tentu dalam peringatan tersebut terselip harapan besar agar pendidikan di negeri ini lebih baik. Mengingat begitu banyak fakta miris yang mewarnai dunia pendidikan, terlebih lagi pada generasinya. Gambaran tentang menuju generasi emas yang sering digembar-gemborkan, tampaknya masih jauh dari harapan, karena berbagai persoalan.

Persoalan pertama dialami oleh Muhammad Fadhly Arjasubrata (17), seorang pelajar dari SMA Negeri 5 Bandung, Jawa Barat, yang dikeroyok oleh beberapa orang pelajar dari SMA berbeda hingga meninggal dunia. Jumat, 13 Maret 2026. https://www.kompas.id.

Kasus yang sama juga terjadi di Bantul, Ilham Dwi Saputra (16), salah seorang pelajar juga dikeroyok secara brutal hingga meninggal oleh sekelompok orang. Selasa, 14 April 2026. https://www.tvonenews.com).

Sementara di Bogor 2 pelajar mengalami hal nahas, keduanya disiram air keras oleh orang yang tak dikenal hingga wajah keduanya terluka. Senin, 20 April 2026. https://news.detik.com.

Bahkan dalam 3 bulan terakhir, hasil pemantauan jaringan pemantau pendidikan Indonesia menemukan 233 kasus kekerasan di dunia pendidikan. Ini artinya, kasus kekerasan terus meningkat bahkan semakin mengkhawatirkan.

Kegagalan Sebuah Sistem

Persoalan yang terus terjadi dalam dunia pendidikan menjadi bukti kegagalan sebuah sistem. Sistem sekuler kapitalisme tak mampu mengimplementasikan arah pendidikan dengan jelas. Akibatnya, banyak pelajar yang cenderung sekuler, liberal, bahkan pragmatis. Mereka juga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. Maka tak heran jika kasus kekerasan di kalangan pelajar terus meningkat. Parahnya, meski melanggar hukum, mereka sering terbebas dari hukum dengan dalih masih di bawah umur.

Baca Juga  ILMISPI Sulbar Beberkan Kriteria Ideal Plt Gubernur Sulbar

Selain itu, sistem pendidikan sekuler kapitalistik juga fokus dalam menghasilkan lulusan orang-orang yang ingin sukses secara instan, tanpa usaha yang lebih serius. Bahkan berani menghalalkan segala cara demi mendapatkan posisi dan keuntungan besar. Persoalan agama sering dipinggirkan, sementara kebebasan begitu diagung-agungkan. Dampaknya, generasi mudah terjerumus pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Demikianlah kondisi generasi dan pendidikan dalam sistem sekuler kapitalisme.

Pendidikan adalah Tanggung Jawab Negara

Berbeda dengan sistem Islam yang disebut Khilafah, sistem Islam menganggap pendidikan sebagai hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Kurikulum yang dijalankan adalah kurikulum berbasis akidah Islam. Sehingga kelak tidak akan menghasilkan lulusan yang sekedar mengejar sukses secara instan, melainkan menjadi insan yang kamil, cerdas dan bertakwa.

Ketakwaan individu adalah keniscayaan dalam sistem pendidikan Islam. Sebab negara terfokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah), di mana pelajar akan diarahkan pada pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariah Islam. Dengan begitu, ketakwaan akan terpancar dalam diri seorang muslim, khusunya pada generasi muda.

Ketakwaan inilah yang mengarahkan individu dan generasi terikat pada aturan Allah Swt. Di manapun dan kapanpun, mereka akan selalu merasa diawasi oleh Allah swt. sehingga dengan kesadaran tersebut tak mungkin terlibat dalam kasus kekerasan dan melakukan kecurangan demi mencapai suatu tujuan. Jika pun ada pelanggaran, maka negara akan memberikan sanksi tegas tanpa memandang status pelaku, baik pelajar atau bukan.

Baca Juga  Opini: Kelangkaan Minyak Goreng Makin Parah, Partai dan Elit Sibuk Tebar Janji

Negara Islam juga akan berupaya membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam kebaikan. Sosial media yang berdampak besar pada generasi saat ini akan terpantau lewat media penerangan. Sehingga dipastikan tak satupun konten-konten unfaedah yang lolos sensor dan merusak generasi. Sebaliknya, negara akan meloloskan konten yang menginspirasi dan menambah ketakwaan individu dan masyarakat.

Untuk mewujudkan semua itu, maka dibutuhkan sinergitas antara keluarga, lingkungan, dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara yang berpijak pada akidah dan syariat Islam.

Pertama, keluarga. Pendidikan pertama akan didapatkan generasi melalui lingkup keluarga. Dari keluarga pendidikan karakter itu ditanamkan. Untuk itu, orang tua perlu memahami dasar-dasar pendidikan anak atau generasi, karena dari merekalah pendidikan pertama itu dimulai, baik seputar tujuan, visi misi, dan pedoman hidup. Orang tua juga menanamkan rasa kasih sayang serta kemandirian, karena pada dasarnya kedua orang tuanyalah yang akan mengantarkan dan menjadikannya baik atau sebaliknya, sebagaimana hadis Rasulullah saw.

Baca Juga  Pemanfaatan Air Hujan Sebagai Sumber Air Bersih

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Kedua, masyarakat atau lingkungan. Lingkungan masyarakat yang baik menentukan corak anak untuk kehidupan selanjutnya. Maka penting adanya aktivitas amar makruf nahi munkar didalamnya. Sehingga ketika ada yang menyimpan atau aktivitas yang jauh dari syariah, masyarakat mengingatkan generasi untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan begitu, kejahatan akan mudah diminimalisir. Bukan malah sebaliknya, individualis, cenderung tak perduli, dan menjadikannya sebagai bahan konten untuk kepentingan pribadi.

Ketiga, negara. Negara wajib bertanggung jawab dalam menerapkan aturan Islam secara utuh dalam rangka mengatur seluruh urusan umat, termasuk menyediakan pendidikan yang berbasis akidah Islam. Pendidikan inilah yang akan menghasilkan generasi tangguh yang beriman dan bertakwa. Alhasil, dunia pendidikan akan aman dari perilaku menyimpan sebagaimana yang dilakukan oleh generasi dalam sistem sekuler.

Dalam pandangan Islam, negara adalah satu-satunya institusi yang melindungi generasi dan mengatasi persoalan kekerasan terhadap anak secara sempurna. Sehingga dunia pendidikan tak akan lagi buram dan memprihatinkan. Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). Wallaahu a’lam bi ash-shawaab. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *