Dua Hari Literasi Budaya di Majene, Dari Seminar Naskah Kuno hingga Pelatihan Menulis Lontar

MAJEN – Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menjadi pusat perhatian dalam upaya pelestarian literasi dan budaya pada pertengahan September 2025.

Dalam dua hari berturut-turut, Minggu hingga Senin (14–15/9/2025), digelar dua kegiatan penting yang mengangkat tema besar pelestarian warisan intelektual bangsa, Seminar Pelestarian Naskah Kuno dan Pelatihan Menulis Lontar.

Kedua kegiatan tersebut digagas oleh Sugisman, S.Pd., M.Pd., Ketua TBM Motivation Tour, sebagai bentuk kepedulian terhadap warisan sejarah dan budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno dan tradisi tulis lokal.

Pada Minggu, 14 September 2025, sebuah seminar bertajuk “Strategi Pelestarian Naskah Kuno di Indonesia: Merawat dan Melindungi Perjalanan Kata” digelar di Kabupaten Majene.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama: A’ba Tammalele, budayawan Sulawesi Barat, serta Thamrin, S.Pd., M.Pd., seorang pegiat literasi. Keduanya memaparkan berbagai strategi pelestarian naskah kuno, mulai dari cara merawat fisik naskah hingga pentingnya dokumentasi digital agar tidak lekang dimakan zaman.

Baca Juga  Siswa Madrasah Polewali Mandar Praktek Cara Pengolahan Kakao

Sugisman dalam sambutannya menegaskan bahwa naskah kuno adalah warisan intelektual bangsa yang memuat nilai, gagasan, dan jejak identitas lokal.

“Kita sering lupa bahwa naskah kuno bukan sekadar lembaran tua, melainkan bukti peradaban yang harus dijaga. Lewat seminar ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran terutama pada generasi muda untuk peduli dan ikut melestarikannya,” ujarnya.

Diskusi berlangsung hangat, dengan banyak peserta yang aktif bertanya mengenai praktik nyata menjaga naskah, termasuk tantangan minimnya perhatian masyarakat dan risiko kerusakan akibat iklim tropis. Seminar ini diharapkan menjadi awal lahirnya lebih banyak inisiatif lokal dalam menjaga kekayaan literasi budaya yang hampir terlupakan.

Keesokan harinya, Senin, 15 September 2025, semangat literasi berlanjut dengan kegiatan Pelatihan Menulis Lontar di Aula B’Nusabila, Lembang, Majene. Pelatihan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang apresiasi terhadap tradisi tulis masyarakat Mandar yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga  Siswa dan Mahasiswa Mudik Gratis ke Selayar

Hadir sebagai narasumber Opy Muis Mandra (Budayawan Mandar), Mohammad Fahmy, S.E., MM (Penulis sekaligus Staf Museum Mandar), Arman, S.Pd. (Pegiat literasi)

Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang sejarah lontar, teknik dasar menulis, serta filosofi yang terkandung di balik tradisi tulis tersebut.

Pelatihan diikuti puluhan pegiat literasi dan pemuda Majene. Para peserta tampak antusias mencoba langsung menulis di media lontar dengan peralatan tradisional. Selain praktik, mereka juga diajak memahami nilai-nilai luhur dalam setiap goresan aksara, sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya.

Seorang peserta, Rahma (20), mengaku baru pertama kali mencoba menulis lontar.

“Awalnya saya kira hanya sekadar belajar menulis, tapi ternyata ada banyak nilai sejarah dan filosofi di dalamnya. Saya merasa bangga bisa ikut menjaga tradisi ini,” tuturnya.

Kedua kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga memperlihatkan bahwa semangat menjaga budaya lokal masih sangat kuat di tengah masyarakat. Antusiasme peserta, baik dalam seminar maupun pelatihan, menjadi bukti bahwa literasi dan budaya bisa berjalan beriringan dalam membangun kesadaran sejarah.

Baca Juga  Pemprov Sulbar Terapkan Tanda Tangan Elektronik di Sekolah

Sugisman menegaskan komitmennya bahwa TBM Motivation Tour akan terus menggerakkan literasi berbasis budaya di berbagai daerah.

“Ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan yang lebih besar. Kita ingin literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membaca sejarah dan menjaga jejak budaya kita,” katanya.

Dalam sudut pandang tata negara dan kebudayaan, kegiatan semacam ini memiliki arti penting: menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi yang cenderung mengikis nilai-nilai lokal.

Dengan adanya seminar dan pelatihan menulis lontar ini, Majene menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dihidupkan kembali di tengah generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *