Festival Ada’ Tuho Ulumanda, Tampilkan Seni Drama, Musik dan Tari

  • Bagikan
Festival Ada' Tuho Ulumanda

POLMAN-– Sekprov Sulbar Muhammad Idris membuka Festival Ada’ Tuho Ulumanda, di Taman Budaya dan Museum Buttu Ciping, Desa Batulaya, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sabtu, 24 Juni 2023 malam. 

Mengangkat tema “Sakka’ Pariama” Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Menjaga Ketahanan Pangan, festival itu diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar. 

Menjaga ketahanan pangan dengan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap ritual pada salah satu unsur Ada’ Tuho yaitu Sakka’ Pariama, merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Sulbar.

Baca Juga  Baru Tiga Bulan jadi Pj Gubsulbar, Prof Zudan Sudah Raih Tiga Penghargaan

Pada festival tersebut, tradisi dan ritual Ada’ Tuho divisualisasikan dalam bentuk pertunjukan seni, drama, musik dan tari.

Sekprov Sulbar Muhammad Idris mengatakan, penyelenggaraan festival sebagai salah satu upaya mendorong sanggar-sanggar seni yang ada di Sulbar agar semakin kuat, dan pemerhati seni juga semakin eksis.

Baca Juga  Sidak Hari Pertama Masuk Kantor di Sulbar, Segini Tingkat Kehadiran ASN

“Pemerintah harus bisa berada dibagian terdepan untuk mendorong sanggar-sanggar seni bisa lebih hidup lagi kedepan,”kata Idris

Idris menjelaskan, Ada’ Tuho merupakan salah satu bentuk aturan adat yang ada di tengah-tengah masyarakat Ulumanda.

“Ada’ Tuho ini banyak pesan yang disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya bagaimana menjaga ketahanan pangan berbasis nilai lokal,”ujar Idris

Idris berharap penyelenggaraan festival tetap berlanjut. Oleh karenanya, Ia mendorong para pemerhati dan komunitas seni yang ada di kabupaten untuk mengambil peran dalam rangka melestarikan seni dan budaya Sulbar.

Baca Juga  Pj Gubsulbar Prof Zudan Bangun Chemistry dengan Pemkab Polman

Ia menambahkan, kebudayaan merupakan salah satu sektor yang dapat mamajukan Sulbar selain dari sektor strategis, seperti kelautan, perikanan, perdagangan, perindustrian maupun pertanian. 

“Provinsi ini harus juga bisa maju dari sektor kebudayaan. Pariwisata itu kompatibel dengan kebudayaan, pariwisata tidak akan maju tanpa ada kebudayaan begitupun sebaliknya,”tutupnya (mhy)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *